Tunggu sebentar...

Minggu, 15 Mei 2016

BUDAYA KAFE

Belakangan ini kafe sudah menjadi seperti rumah kedua bagi banyak orang. Terutama di kota-kota besar dan ketika urusannya menyangkut soal berinteraksi dengan orang lain. Mulai dari reuni, nobar, sampai melobi klien atau pertemuan kecil 'pelipur lara' dengan teman-teman.

Setidaknya ada dua kemungkinan mengapa orang memilih kafe untuk berinteraksi dengan orang lain. Pertama soal kepraktisan. Meski lebih mahal, kita tidak perlu pusing soal menyiapkan tempat, menyiapkan makanan serta soal cuci-cuci gelas, piring dll.

Kedua, kenyamanan. Kafe jelas dirancang untuk membuat nyaman pengunjung. Tempat, pelayanan, lokasi, semuanya sudah diperhitungkan secara maksimal. Makanan yang enak, tempat yang strategis, pelayanan yang ramah jadi daya tarik penting bagi tamu. Dan jangan lupa, di jam-jam tertentu biasanya ada live music.


Buat saya yang dibesarkan di kampung, jujur saja kafe agak terasa asing. Rumah masih menjadi pilihan utama sebagai tempat ternyaman. Bukan soal kelebihan atau kekurangan, tapi soal rasa, soal kedekatan.

Rumah memberi saya privasi tingkat tinggi. Dan senyaman apa pun kafe, ia tidak bisa memberikan yang satu ini. Kafe tetaplah ruang publik yang membuat privasi kita dipagari oleh privasi orang lain.

Tetapi apapun preferensi kita, tetap saja kita harus beradaptasi dan membuka diri terhadap hal-hal baru di sekeliling kita. Keterbatasan kafe dalam hal privasi toh bisa terlupakan ketika kita larut dalam kebersamaan dengan para sahabat. Selalu ada kompromi-kompromi yang bisa dilakukan untuk menyikapi hal-hal di luar kebiasaan pribadi.

Yang terpenting, jangan sampai kita lebih banyak menghabiskan waktu di kafe ketimbang di rumah. Ada dua konsekuensi jika itu yang terjadi. Pertama, Anda bisa bangkrut. Kedua, Anda bisa diusir oleh orang rumah karena dianggap sebagai pengkhianat.

Jadi, wilujeng ngafe alakadarnya.

15052016

Jumat, 13 Mei 2016

CHANDRA

Suka nonton Tonight Show Net TV? Pertanyaan ini penting untuk menyamakan dulu persepsi. Kalau jawabannya iya, pasti kenal Chandra yang selalu ngomong, "Selamat malam Tonight Lovers. Perkenalkan nama saya Chandra..." dst, dengan gaya stand-up comedian.

Lucu? Nggak, dan semua tahu itu. Ketawa? Yakin Anda, saya, kita semua ketawa. Pertanyaannya adalah, kenapa kita ketawa? Bukankah menertawakan sesuatu yang tidak lucu itu aneh? Mari kita coba cari jawabannya.

Manusia pada dasarnya selalu ingin jadi pemenang. Selalu ingin lebih dari yang lain. Ingat saja ketika kita habis foto bareng temen-temen, maka yang paling duluan dicari adalah foto kita sendiri, baru membandingkannya dengan foto temen-temen. Dan ketika foto kita terlihat lebih cantik atau ganteng dibanding foto temen, diam-diam kita tersenyum puas. Menikmati perasaan menjadi pemenang.


Saat nonton Chandra, kita memang tidak pernah berharap dia akan lucu. Ketidak lucuan dia membuat kita merasakan sensasi menjadi pemenang. "Ah, kalau cuma gitu sih, gua bisa lebih lucu dari dia." Ketawa kita adalah efek sensasi merasa jadi pemenang. Merasa senang karena si Chandra menjadi objek penderita.

Kalau dia lucu, kita malah kecewa. Kenapa? Karena kita kehilangan sensasinya. Kita bukan tidak lagi jadi pemenang.

Cara tim kreatif program ini memikat penonton sebetulnya sederhana: penuhi hasrat primitif penonton untuk jadi pemenang. Dan hasilnya luar biasa. Logika bahwa hanya barang bagus yang bisa dijual benar-benar dijungkirbalikkan. Komedian yang tidak lucu justru ditunggu-tunggu penonton.

Cuma yang kasihan di Chandranya ini. Sampai kapan pun dia nggak akan pernah (boleh) lucu, meski pun misalnya dia mampu. Settingnya memang harus seperti itu. Sampai penonton bosan, suatu saat nanti.

Tapi begitulah, demi sebuah keberhasilan memang harus selalu ada yang dikorbankan. Dan jangan khawatir, selalu ada imbalan besar untuk sang korban :)

Terima kasih Tonight Lovers, nama saya bukan Chandra!

11052016

Rabu, 11 Mei 2016

SAHABAT SEMPRUL

Saya tak pernah membayangkan, begitu mudahnya mendapatkan popularitas seperti saat ini. Sama seperti mudahnya kehilangan popularitas. Lihat saja. Selebriti datang dan pergi. Naiknya instan, turunnya juga instan. Jika tak pintar-pintar mengelolanya, semua bisa hancur dalam hitungan bulan.

Maka soal manajemen ini menjadi penting. Bukan cuma manajemen si pesohor, melainkan juga fanbase. Maka jangan heran jika ada penyanyi misalnya, baru muncul dua minggu sudah punya fanbase terorganisir. Ajaib? Mungkin.

Caranya? Namanya juga zaman instan. Apa sih yang nggak bisa dilakukan dengan cepat sekarang ini? Fanbase itu dikelola bukan oleh penggemarnya. Mana mungkin orang baru kenal dua minggu bisa begitu hebatnya menyihir orang sehingga mau-maunya bikin fanbase lengkap dengan panggilan atau sebutannya: Sahabat Semprul lah, Balad Garong lah, Badutholic lah, Hina Nista lah de el el, de el el.

Manajemen si pesohor, calon pesohor, atau apa pun namanya, biasanya sekaligus juga mengelola fanbase. Maka hebohlah penggemar si artis baru jebrol ini ngikutin ke mana-mana dengan kaos warna-warni bertuliskan identitas fanbase tadi.

Sebetulnya nggak ada yang salah dengan itu. Orang boleh saja melakukan banyak cara untuk menjual dagangannya. Cuma geli aja, sebab saya terus terang tidak terbiasa melihatnya. Coba lihat penyanyi-penyanyi keren zaman dulu. Tidak ada Ruth Sahanayaholic, Ebiet G Adenista, Godblessmania, Krakatau Lovers atau semacamnya. Padahal kurang hebat apa mereka? Kurang pantas apa mereka memiliki fanbase yang centil dan pake sebutan segala?

Bandingkan dengan penyanyi yang usia karirnya baru masuk hitungan bulan sudah punya fanbase yang dengan gagahnya memproklamirkan diri sebagai Sahabat Semprul lah, Balad Garong lah, Badutholic lah, Hina Nista lah de el el, de el el.

Tapi ya sudahlah. Dunia memang selalu berubah. Selama si Semprul, Garong, Badut, Hina dll bisa mengimbangi kegenitan ini dengan kualitas, saya masih bisa menahan geli. Kasihan kan kalau para Sahabat Semprul, Balad Garong, Badutholic, Hina Nista de el el itu harus menghadapi kenyataan pujaan mereka tiba-tiba terdepak dari pasar dan menghilang. Mungkin mereka harus bertransformasi menjadi fanbase lain, dengan nama baru, dengan kaos yang berbeda.

Apa, nyinyir? Bukaaaan, ini bukan nyinyir. Ini cuma geli. Udah dulu yaa, Tataholic :)

11052016

Selasa, 10 Mei 2016

ALUMNI


Menurut KBBI, alumni adalah orang-orang yg telah mengikuti atau tamat dari suatu sekolah atau perguruan tinggi. Jadi, kalau saya berpedoman pada KBBI, maka saya berhak mengaku sebagai alumni, terlepas dari di mana saya pernah belajar.

Paling tidak, kalau ada pertanyaan memaksa soal sekolah, saya bisa mengaku sebagai alumni sebuah lembaga pendidikan tanpa harus merasa berdosa. Pasalnya, di masyarakat kita, memang ada sebagian kalangan yang merasa bahwa status pendidikan formal itu sungguh penting. Bahkan lebih penting dari soal layak atau tidaknya seseorang menyandang status alumni.

Bagi saya sendiri, status alumni tak lebih dari sekadar pengingat bahwa 'saya pernah pergi ke sana'. Sekadar pengikat di kalangan kelompok kecil teman-teman yang pernah sama-sama makan di warung Bu Tunduh.

Maka ketika ada reuni akbar di Jatinangor, niat saya sederhana. Ketemu kelompok kecil teman-teman sekelas, ngopi bareng, ketawa-ketawa, dan ngobrol dengan bahasa kasar, seperti dulu. Menjadi manusia yang jujur dan tulus seperti di masa lalu, tanpa embel-embel predikat yang disandang saat ini (kalau ada).

Jadi saya sama sekali tidak peduli jika Ikatan Alumni mengadakan pemilihan ketua baru. Ikatan Alumni (maksud saya, yang formal) buat saya tak lebih seperti saudara jauh. Mungkin ada sedikit hubungan kekerabatan, tetapi bahkan tak saling kenal. Apalagi saling membantu.

Orang-orang yang konon menjadi anggota otomatis hanya dirangkul saat dibutuhkan. Sebagai bekal hitung-hitungan, sebagai angka, dan bukan sebagai manusia. Lumayan, barangkali jadi tukang dorong ke posisi atau jabatan tertentu. Mungkin, karena saya tidak tahu, dan tidak mau tahu, juga tidak mau dirangkul, kecuali jika Ikatan Alumni adalah nama seorang perempuan cantik.

Beruntunglah saya masih punya teman-teman sederhana yang juga sama-sama memilih menjadi manusia dan menikmatinya dengan tulus. Sebab kalau tidak, saya mungkin sudah lama mencoret 'saudara jauh' ini dari daftar keluarga.

08052016

catatan oleh-oleh reuni akbar

Minggu, 08 Mei 2016

TEKNOLOGI MASUK KAMAR

Hah, masuk kamar? Bukaaan... bukan kamar dalam artian itu ;) Maksudnya, teknologi saat ini sudah sudah masuk ke ruang-ruang privat, ruang-ruang pribadi. Dan salah satu ruang privat itu adalah kamar. Kamar adalah ruang pribadi yang tak boleh dimasuki sembarang orang kecuali pemiliknya.

Benar, teknologi sudah masuk - bahkan menjajah ruang-ruang privat. Dimulai dengan teknologi radio, televisi, dan sekarang internet. Dulu, jaman radio masih termasuk barang mewah, mendengarkan radio otomatis termasuk salah satu bentuk kemewahan. Konon mendengarkan siaran wayang golek di malam Minggu merupakan ritual mewah yang dinikmati bersama di ruang publik. Saat radio baru dimiliki oleh segelintir orang kaya, maka acara mendengarkan siaran wayang golek menjadi ritual kolektif yang dinikmati bersama di ruang publik. Sambil ngopi, merokok, sekaligus bercengkrama di antara sesama kaum duafa yang numpang mendengarkan cerita wayang golek di rumah orang kaya yang 'dermawan', 'berharap dianggap dermawan', atau memang seorang yang benar-benar dermawan.

Ketika harga radio semakin terjangkau, maka simbol kemewahan itupun bergeser. Penandanya bukan lagi radio, melainkan berubah menjadi televisi alias tipi. Televisi kembali dinikmati secara kolektif di ruang publik. Acara nonton tivi juga menjadi wahana sosialisasi warga. Seiring berjalannya waktu, ketika harga televisi semakin 'terjangkau', fungsinya pun ikut bergeser. Televisi tak lagi hadir di ruang-ruang publik melainkan menyempit ke dalam ruang yang lebih pribadi: di dalam rumah. Saat ini boleh dikatakan jarang keluarga yang tidak memiliki televisi. Bahkan satu anggota keluarga satu televisi bukan lagi hal yang aneh.

Begitu cepatnya perubahan terjadi. Teknologi saat ini kian merangsek ke ruang-ruang yang sangat pribadi. Ketika internet tak lagi menjadi kemewahan, perubahan itu melesat laksana kilat. Beragam fitur teknologi terbaru susul menyusul dengan cepatnya. Apa yang bulan lalu dianggap teknologi tercanggih, hari ini sudah dianggap ketinggalan jaman. Telepon genggam yang dulu hanya berfungsi untuk menelepon dan mengirim teks (SMS), saat ini sudah berkembang menjadi semacam komputer pintar yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk mengakses aneka informasi di internet. Smartphone alias telepon pintar, begitulah orang menyebutnya. Dan pilihan yang tersedia begitu melimpah. Semua orang, mulai dari yang berkantong tebal hingga yang berkantong pas-pasan punya kesempatan yang sama, karena harganya juga bervariasi, disesuaikan dengan kualitas produknya.

Sungguh, di satu sisi ini adalah sebuah anugerah. Semua orang memiliki kesempatan yang nyaris sama untuk menikmati teknologi, khususnya yang berkaitan dengan internet. Sebagai sebuah sumber informasi yang luar biasa berlimpah, internet bisa membuat kualitas hidup seseorang meningkat pesat, terutama yang berkaitan dengan pengetahuan. Informasi apa saja bisa diperoleh di internet. Dan modal untuk mengaksesnya tak perlu mahal. Sebuah ponsel cerdas kelas low-end sudah memadai untuk kebutuhan ini.

Sayangnya, perkembangan ini tidak hanya mengakibatkan hal-hal positif saja, melainkan juga hal-hal negatif. Informasi yang tidak terkontrol bisa menjadi bumerang jika tidak disertai pengetahuan yang memadai untuk menyaringnya. Informasi yang diserap mentah-mentah tidak dijamin akan berefek positif, karena bisa juga malah menyesatkan. Sementara dari sisi sosial, masuknya teknologi ke ruang privat ini juga secara perlahan menyeret penggunanya menjadi pribadi-pribadi yang seolah-olah terasing dari lingkungan sekitarnya. Bukan sesuatu yang aneh ketika kita melihat orang berkumpul tetapi masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri. Ada yang browsing internet, ada yang sibuk chatting dengan BBM, ada yang (mungkin masih) sibuk mengetik SMS, dll.

..bahkan orang yang berhadap-hadapan pun  ngobrol lewat medsos...

Tak salah ketika ada orang yang mengatakan bahwa teknologi semacam ini telah "mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat". Orang yang ada di samping kita dicuekin sementara kita sibuk ngobrol via BBM atau SMS dengan orang yang entah berada di mana. Kondisi semacam ini secara perlahan akan menggiring kita menjadi manusia-manusia yang tercerabut dari hangatnya interaksi sosial face to face yang sesungguhnya. Tanpa sadar kita telah terseret menjadi budak teknologi yang setia. Sehari saja tidak mengakses internet, membuat kita merasa ada sesuatu yang hilang. Teknologi, dalam hal ini internet, telah menjadi candu.

Lalu, haruskah kita meninggalkan semua ini dan kembali hidup di jaman 'Tarzan'? Tentu tidak demikian, sebab teknologi itu seperti pisau yang akan sangat bermanfaat jika digunakan secara bijak, tetapi sebaliknya akan merusak jika digunakan tanpa aturan. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Gunakan teknologi dalam batas-batas yang wajar dan itu insya Allah akan bermanfaat. Tapi jangan lupakan orang-orang di sekitar kita, sebab merekalah yang sesungguhnya menciptakan eksistensi kita secara sosial.

Ingat, teknologi tak akan pernah bisa menggantikan keluarga, sahabat dan teman-teman secara fisik. Maka jangan sia-siakan mereka, paling tidak ketika kita berada diantara mereka. Dan yang terpenting, jangan biarkan teknologi menjajah kita sebab teknologi adalah 'pisau' kita.

dari tulisan lama/08082012

Jumat, 06 Mei 2016

BAYI DI CINA LAHIR DENGAN 31 JARI

Bayi dengan 16 jari kaki

Sebuah keluarga yang hidup dalam kemiskinan di Cina sudah putus asa mencari bantuan dari luar dengan harapan mereka bisa mengoperasi bayi laki-lakinya.

Hong Hong, yang berusia hampir 4 bulan, mengalami polydactylism, atau kondisi bawaan kelebihan jari tangan atau kaki. Ini bukan kondisi yang terlalu istimewa, dan menimpa sekitar satu dari setiap 1.000 kelahiran; tetapi biasanya, hanya tangan atau kaki saja yang terkena (tidak tangan dan kaki sekaligus), dengan satu atau dua tambahan jari per tungkai.

Tapi kondisi bayi Hong Hong ini sangat berbeda.

Anak laki-laki yang lahir di provinsi Hunan pada bulan Januari ini memiliki 15 jari tangan dan 16 jari kaki. Dia juga memiliki empat telapak tangan (dua telapak pada masing-masing tangan) dan tidak memiliki ibu jari.
15 jari tangan

Ibu Hong Kong sendiri memang mengidap polydactylism dan memiliki 12 jari tangan dan 12 jari kaki. Dia dan suaminya mengatakan mereka sedang mencari nasihat medis mengenai cara terbaik untuk mengobati anak mereka.

Sejauh ini, dokter telah memperingatkan bahwa operasi yang diperlukan untuk menghapus jari tambahan dan pembuatan jempol hasil rekonstruksi akan menjadi prosedur yang rumit dan mahal. Operasi itu dilaporkan bisa menghabiskan biaya sebesar $ 30.000.

Guna mengumpulkan uang untuk operasi, keluarga Hong Hong telah mencoba platform penggalangan dana dan konon berhasil mengumpulkan lebih dari $ 6.000 sampai saat ini. Tapi, Zou Chenglin, ayang si anak mengatakan kepada CNN bahwa mereka memutuskan untuk menghentikan usaha mereka "karena berbagai komentar yang mereka terima tentang pengumpulan uang secara online."

Untuk saat ini, dokter mengatakan bahwa Hong Hong masih terlalu kecil untuk menjalani operasi. Mereka menyarankan agar anak itu dioperasi pada usia antara 6 bulan sampai satu tahun, seperti dikutip koran Cina Sina News.

Menurut Guinness World Records, orang yang lahir dengan jari tangan dan kaki terbanyak adalah Akshat Saxena yang lahir di India pada tahun 2010. Akshat, yang menjalani operasi karena kondisi tersebut, lahir dengan total 34 jari - 14 jari tangan dan 20 jari kaki.

Sumber: http://www.huffingtonpost.com

Selasa, 03 Mei 2016

WHATSAPP DIBLOKIR LAGI!

SAO PAULO (Reuters) - Seorang hakim Brasil memerintahkan operator telepon nirkabel untuk memblokir akses terhadap WhatsApp milik Facebook Inc selama 72 jam di seluruh negeri terbesar di Amerika Latin tersebut mulai Senin petang. Ini merupakan kejadian serupa kedua yang dialami aplikasi pesan populer ini dalam kurun waktu lima bulan.


Keputusan hakim di timur laut negara bagian Sergipe tersebut diberlakukan terhadap lima operator nirkabel utama di Brasil. Alasan perintah itu tidak diketahui karena soal kerahasiaan hukum dalam kasus yang sedang berjalan di pengadilan negara bagian Sergipe.

Perwakilan Facebook di Sao Paulo tidak bisa segera dihubungi untuk memberikan tanggapan. Demikian juga para eksekutif di lima operator - Telefonica Brasil SA, América Móvil SAB’s Claro, TIM Participacoes SA, Oi SA dan Nextel Participacoes SA.

Hakim Marcel Maia Montalvao adalah juga hakim yang pada bulan Maret memerintahkan dipenjarakannya seorang eksekutif Facebook yang berbasis di Brasil karena tidak mematuhi upaya pemblokiran terhadap WhatsApp. Dia dipenjara dan kemudian dibebaskan.

Ini adalah untuk kedua kalinya sejak pertengahan Desember layanan pesan teks dan telepon suara Internet untuk ponsel pintar menjadi target dari perintah pemblokiran.

Seorang hakim di negara bagian São Paulo memerintahkan agar layanan ditutup selama 48 jam setelah Facebook tidak mematuhi perintah, meskipun pengadilan lain tak lama kemudian menghentikan penangguhan tersebut.

diterjemahkan dari Hufftington Post

Minggu, 12 April 2015

BELAJAR BERSYUKUR

Harga sesuatu itu ditentukan oleh upaya untuk mendapatkannya. Semakin susah, semakin berharga. Memang begitu aturan mainnya.

Segelas air putih yang biasa-biasa saja di tempat normal, akan menjadi luar biasa nikmat ketika diminum di tengah gurun pasir, jauh dari mata air, sehabis lari marathon sambil makan kerupuk di siang hari bolong. Silakan coba sendiri kalau tidak percaya.

Dulu (bahkan sampai sekarang) saya suka 'kabita' (ngiler) melihat bapak-bapak yang makan dengan lahap di sawah. Padahal lauknya cuma ikan asin, sambal dan lalapan. Ternyata rahasianya adalah: mereka bekerja keras dulu sebelum makan.

Itu sebabnya, barang-barang yang dibuat dengan tangan (handmade) selalu lebih mahal dibanding barang yang sama namun hasil produksi massal dengan mesin. Kadar usaha yang dilakukan beda, apalagi kalau sudah melibatkan seni dan sentuhan pribadi.

Maka berbahagialah mereka yang bisa hidup dari hasil kerja keras dan keringat. Rasa lelah itu membuat apa yang diraih menjadi sangat berharga. Uang 50 ribu bisa membuat kita merasa kaya, namun belum tentu demikian untuk orang yang uangnya banyak, dan didapat dengan cara yang gampang.

Para koruptor uangnya pasti banyak. Tapi siapa yang bisa menjamin bahwa mereka merasa kaya? Saya malah yakin bahwa mereka selalu merasa miskin. Lha kalau merasa kaya mereka pasti berhenti korupsi kok.

Jadi, bersyukurlah jika untuk mendapatkan uang 50 ribu saja kita harus kerja keras. Dan kita tidak perlu mencuri untuk mendapatkannya. Tuhan memberi kita rasa nikmat yang tidak akan dimiliki oleh orang yang punya banyak uang, apalagi yang mendapatkannya dengan cara yang tidak halal.

Bukankah itu hebat?

Sabtu, 21 Maret 2015

DARURAT

Peningkatan itu tidak selalu baik. Durasi berseteru misalnya, justru harus menurun. Saya tidak tahu, apa yang sebetulnya didapat oleh mereka yang berseteru. Materikah? Kepuasan batinkah?

Sejak pilpres kemarin, Indonesia terbelah dua. Pendukung kubu satu dan kubu dua. Atau mungkin tepatnya tiga, jika yang tidak mendukung siapa-siapa dihitung. Polarisasi ini ternyata masih berlanjut sampai sekarang. Entah sampai kapan.

Celakanya, dua yang pertama ini kebanyakan tak lagi objektif. Jagoanku pasti benar, jagoanmu pasti salah. Setidaknya, itu kesan yang bisa ditangkap. Kalau sudah begini, pasti susah untuk bersikap objektif.

Lama-lama orang menjadi sangat sibuk. Terlalu sibuk bahkan. Sibuk mencari kelemahan lawan. Sibuk menutupi kelemahan jagoan pujaan. Sibuk berseteru. Dengan saudara sendiri. Saudara sebangsa. Nyaris tak tersisa waktu untuk bersikap bijak. Untuk berbuat yang bermanfaat. Buat rakyat.

Sebab rakyat hanya dianggap komoditas. Hanya atas nama. Hanya statistik. Hanya modal pembenaran atas sebuah tindakan. Agar terkesan bermartabat jika mengaku berbuat atas nama rakyat. Entah rakyat yang mana.

Hey! Ini sudah darurat. Perseteruan ini harus segera dihentikan. Lebih baik saling mengingatkan dalam kebaikan. Jangan sia-siakan energi kalian hanya untuk saling menjatuhkan. Ayo ah, jangan berlebihan.

Pertanyaannya, maukah kalian berhenti berdebat? Dan sama-sama mulai berbuat? Dan jadi bangsa yang bermartabat?

Mikir!

21032015

Selasa, 18 Maret 2014

SAJADAH

Sajadah menurut KBBI adalah alas yg digunakan untuk sholat, berupa karpet dsb., berukuran kecil, kurang lebih 80 x 120 cm. Apakah sholat harus selalu menggunakan sajadah sebagai alas? Tentu tidak, sebab sajadah tidak termasuk syarat sahnya sholat.

Saya jarang membawa sajadah ke mesjid, sebab saya berasumsi bahwa karpet mesjid itu bersih dan sah untuk dijadikan tempat sholat. Kalau Anda mau bawa sajadah sendiri juga tidak apa-apa. Dan tentu bukan berarti Anda menganggap bahwa karpet mesjid kotor sehingga perlu diberi alas lagi dengan sajadah.

Intinya, dengan atau tanpa sajadah, kita berniat menjalankan perintah agama sesuai aturan. Maka seharusnya tidak ada tujuan lain selain itu. Misalnya agar terlihat keren, kaya, atau banyak uang karena sajadah kita bagus.

Atau, jangan-jangan kita membawa sajadah karena kita ingin duduk dengan nyaman? Soalnya sering saya lihat orang membawa sajadah super lebar sehingga ia bisa bersila dengan selebar-lebarnya. Bahkan terlihat kurang senang jika kaki orang di sebelahnya melanggar batas pinggir sajadah yang didudukinya :)

Padahal ketika berada di masjid, selain tujuan kita beribadah mengikuti perintah Allah, kita juga belajar berbagi dan tidak bersikap mau enak sendiri. Ingin duduk nyaman sambil tertidur, sementara orang di sebelah kita harus menekuk kaki rapat-rapat sebab jatah tempat duduknya sangat sempit.

Filosofi sholat berjamaah adalah menjalin kebersamaan, saling berbagi, belajar merasakan kesusahan orang lain, dan seterusnya. Toh waktu sholat (ditambah khutbah, kalau sholat Jum'at) tidak menghabiskan waktu seharian. Tak akan membuat kita mati kalau sekedar menahan sedikit kesemutan karena berbagi tempat yang sempit dengan orang lain.

Meski sholat kita belum sempurna, siapa tahu pahalanya bertambah hanya dengan sedikit berkorban, mau berbagi ketidaknyamanan bersama-sama dengan orang lain. Ini seperti sepele, tetapi penting untuk mulai belajar merasakan sesuatu yang mungkin selama ini terabaikan.

Maka, kalau nanti Anda mau beli sajadah baru, jangan beli yang super lebar ya? Jangan sampai ada hak orang lain yang terampas hanya karena kita ingin nyaman sendiri :)